Bertolak dari cerita dan opini seorang Rhenald Kasali (Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi UI) tentang model pendidikan Indonesia dibandingkan dengan Amerika dalam mencetak lulusan yang berkualitas dan berprestasi, memang benar adanya - Sumber : Mailist ITB.
Sebelumnya beliau bercerita tentang pengalamannya lima belas tahun lalu saat anaknya masih studi di Amerika dan mendapatkan nilai E (Excellent – Sempurna) untuk sebuah karangan berbahasa Inggris. Padahal jelas sekali bahwa kemampuan verbal anaknya dalam mengolah kata-kata berbahasa Inggris masih jauh dari sempurna. Hal ini membuat seorang Rhenald Kasali menjadi gusar dengan kualitas pendidikan di tempat anaknya melakukan studi, betapa tidak, seorang yang memiliki kemampuan verbal terbatas bahkan bisa mendapatkan nilai yang sungguh sempurna. Bagaimana hal ini bisa terjadi..? Apakah hal ini tidak justru membuat anaknya cepat berpuas diri..?
Menyikapi hal ini, beliau melakukan protes terhadap guru di tempat anaknya melakukan studi. Tapi jawaban yang diberikan cukup membuat seorang Rhenald Kasali menyadari bahwa model pendidikan yang diterapkan di tempat itu sungguh berbeda dengan Indonesia. Guru yang menerima beliau mengatakan bahwa nilai tersebut wajar di terima. Logikanya sederhana, anak tersebut berasal dari Indonesia dan memiliki bahasa ibu (Mother Tongue) Indonesia. Untuk anak seumuran dia sudah bisa membuat karangan berbahasa Inggris seperti itu, gurunya menjamin itu adalah sebuah karya yang hebat.
Sebelumnya beliau bercerita tentang pengalamannya lima belas tahun lalu saat anaknya masih studi di Amerika dan mendapatkan nilai E (Excellent – Sempurna) untuk sebuah karangan berbahasa Inggris. Padahal jelas sekali bahwa kemampuan verbal anaknya dalam mengolah kata-kata berbahasa Inggris masih jauh dari sempurna. Hal ini membuat seorang Rhenald Kasali menjadi gusar dengan kualitas pendidikan di tempat anaknya melakukan studi, betapa tidak, seorang yang memiliki kemampuan verbal terbatas bahkan bisa mendapatkan nilai yang sungguh sempurna. Bagaimana hal ini bisa terjadi..? Apakah hal ini tidak justru membuat anaknya cepat berpuas diri..?
Menyikapi hal ini, beliau melakukan protes terhadap guru di tempat anaknya melakukan studi. Tapi jawaban yang diberikan cukup membuat seorang Rhenald Kasali menyadari bahwa model pendidikan yang diterapkan di tempat itu sungguh berbeda dengan Indonesia. Guru yang menerima beliau mengatakan bahwa nilai tersebut wajar di terima. Logikanya sederhana, anak tersebut berasal dari Indonesia dan memiliki bahasa ibu (Mother Tongue) Indonesia. Untuk anak seumuran dia sudah bisa membuat karangan berbahasa Inggris seperti itu, gurunya menjamin itu adalah sebuah karya yang hebat.
Rupa-rupanya filosofi pendidikan di negara tersebut bukanlah menghukum, melainkan merangsang orang untuk maju (Encouragement). Sedang di Indonesia ini kadang kala sebuah nilai B (Baik) pun sangat susah untuk di raih meski seorang siswa sudah berusaha dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Bahkan kadang kala sebuah nilai C (Cukup – hanya syarat lulus) pun diberikan bukan karena cara pandang yang obyektif melainkan lebih cenderung ke arah bantuan – belas kasihan terhadap anak didiknya.