"Praise The Lord, Hey My Soul.. Pujilah Tuhan, Hai Jiwaku.." Kata itu mungkin yang keluar dari dalam hati ku sepulang aku dari gereja.. Entah suatu kebetulan atau apa, sebab tema gereja malam itu benar benar membuka mata dan hatiku..
Sebuah kisah tentang Nabi Elia menjadi sajian dalam bacaan pertama.. Mengingatkan aku tentang sebuah cerita alkitab yang di fiksikan oleh Paulo Coelho dalam sebuah novelnya berjudul “The Fifth Mountain”.. Sebuah buku yang benar benar mampu menyadarkan aku tentang sebuah ketaatan serta sebuah pengujian..
Di ceritakan tentang Nabi Elia dalam ketaatannya kepada Tuhan justru menjadikan dia sebagai seorang pelarian.. Dalam pelarian tersebut ia masuk ke dalam sebuah kota dimana dia akhirnya bertemu seorang janda dan jatuh cinta kepadanya.. Tetapi dalam ketaatan itu ternyata nasib berbeda menemui nya.. Orang yang di cintai nya satu persatu harus pergi.. Sepertinya Tuhan mempermainkan dia.. Huuumm.. Sedihnyaa.. hikks hiks..
Masih tentang bacaan di gereja juga.. hehehe.. Dua minggu yang lalu bacaan pertama di gereja adalah tentang bangsa Israel yang keluar dari perbudakan mesir, yang kemudian sampai di tengah padang gurun mereka berkeluh kesah, sebab mereka kelaparan.. Mereka lebih memilih untuk mati sebagai budak tetapi dengan roti dan daging di depan mata mereka, daripada mati kelaparan di padang gurun sebagai orang orang bebas..
Bagi saya, kedua cerita tersebut memiliki substansi yang sama.. Tentang ketaatan dan tentang sebuah penderitaan.. Saya rasa banyak orang berkeluh kesah, “Waduuhh, saya ini sudah jadi orang baik, tapi masih saja seperti ini seperti itu..” Hahahaa.. Gw banget keluh kesahnya.. Padahal saya bukan orang baik.. Hihihi.. Cepee deehh..
Tetapi keluh kesah yang seperti itu 100% wajar.. Itu normal.. Gak dosa (menurut saya sih).. Hehehe..
Tapi lantas kalau kemudian dengan keluh kesah seperti itu membawa kita kepada suatu amarah, kepada suatu umpatan bahkan kepada suatu rasa benci kepada Tuhan terlebih sikap penyalahan diri sendiri.. Itulah yang membuahkan sebuah dosa.. Hehehe.. Sok Teu gw yaa… ? Wuakakakakak.. Gaklaaah.. emang gitu sih.. :D ting ting ting *gigi mengkilap*…
Woaah.. Jadinya ngomong apaan sih lo gak jelas bangeeet..??!! Hehehe.. Sabar sabar guyz galz.. Gini maksudku..
Sadarkah kalian bahwa Tuhan itu sebenarnya tidak pernah bermaksud jahat sama kita..? Dia baik, bahkan lebih baik dari yang pernah kita duga.. Dia seperti guru yang setia dan bertanggung jawab..
Jadi saat kita menemui kesusahan dalam sebuah tugas, kewajiban bahkan kebaikan yang telah kita lakukan, maka tenanglah.. Don’t panic.. Pasti ada sebuah alasan di balik semua kejadian itu..
Nabi Elia pada suatu titik tertentu juga sempat berkata kepada Tuhan yang mengutus dia.. "Sudahlah biarkan aku kembali saja sebagai orang biasa dengan segala kekurangan alamiah ku.. " Huumm.. Tapi Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi.. Tuhan mengutus malaikat nya untuk memberikan semangat pada Nabi Elia.. Dan pada titik tertentu juga, memuncaklah kejenuhan Nabi Elia karena segala kejadian pahit yang di alaminya.. Hingga mengatakan " Aku hendak menantang Tuhan.. Aku akan mendirikan kota Akbar yang telah hancur lebur ini jauh lebih indah dari yang pernah ada.. " Kemudian dia membangun kota akbar itu menjadi lebih indah..
Dan pada titik itulah Nabi Elia mengerti akan sebuah keinginan Tuhan.. Bahwa Tuhan menginginkan dia lebih dari sekedar manusia dengan kekurangannya.. Tuhan tahu sejauh apa kemampuan Nabi Elia.. Dan Tuhan mau mengajar dia untuk menjadi lebih dari sekedar itu..
Saya akan mengambil cuplikan ilustrasi lebih simple lagi dari buku yang telah saya tulis.. Hehehe.. Bukan maksud promosi loh.. (Padahal sudah masuk unsur promosi yaa..?? Xixixixi)..
" Ada seorang yang berlatih silat di suatu gunung, dia dan seorang gurunya saja di tempat itu… Guru itu sangat pandai ilmunya dan sakti pula, dia adalah orang nomor satu yang paling disegani di seantero jagad karena ilmunya… Setelah bertahun-tahun murid itu tumbuh dan berlatih di tempat itu dengan disiplin, gurunya mengajari tentang ilmu silat, kebijaksanaan dan hal yang baik kepada muridnya itu dan guru itu sangat menyayanginya…
Hingga suatu malam, saat murid itu sedang tertidur lelap, seseorang dengan berpakaian hitam dan bertopeng menyerangnya secara tiba-tiba… Murid itu terkejut, di tengah ketenangannya dalam tidur itu dia menjadi lengah, kewalahan dan terluka di beberapa bagian karena serangan orang itu, tapi murid itu bangun dan menantang orang itu… Mereka berkelahi sepanjang malam itu dan murid itu berhasil mengalahkannya…
Murid itu penasaran, dia segera membuka topeng penyerang itu dan menemukan bahwa penyerang itu adalah gurunya sendiri… Murid itu makin tidak mengerti dan bertanya mengapa gurunya melakukan hal itu… Guru itu menjawab bahwa sudah bertahun-tahun murid itu belajar di gunung ini, banyak ilmu sudah diturunkan kepadanya… Tapi tidak akan pernah ada artinya kalau murid itu tetap ada di tempat ini… Sudah waktunya dia pergi mengembara mencari yang lebih dalam tentang arti kehidupan dan makna dia belajar ilmu silat itu… Guru itu berkata, bahwa jauh di luar sana banyak hal yang tidak terduga dan mungkin jauh lebih berat daripada serangan tak terduga yang barusan dilakukannya… Semuanya itu hanya ujian supaya murid itu terlatih menghadapi yang jauh lebih besar di luar sana…
Murid itu bertanya lagi, “ kenapa guru bisa kalah dengan saya, padahal ilmu guru masih jauh di atas saya ?”
“Seandainya guru mau, guru bisa kalahkan saya dengan mudah…” lanjut murid itu…
Guru itu menjawab, “Nak, aku tahu aku bisa kalahkan kamu dengan mudah… Bahkan dengan memejamkan mata sekalipun, atau tanpa menyentuh sedikitpun tubuh kamu…”
“Tapi tidak tahukah kamu ? Aku guru yang baik dan tidak curang, aku tidak menggunakan kekuatanku sepenuhnya untuk menunjukkan bahwa aku hebat… Semua orang telah mengakuinya tanpa aku harus mengalahkan kamu dahulu…”
“Aku tahu sejauh mana aku harus membatasi diriku saat melawan kamu, karena aku tahu setinggi mana ilmu kamu, karena kamupun adalah muridku…” "
Yup.. Guru silat itu benar benar mengenal muridnya dan tidak menginginkan muridnya menjadi jago kandang saja.. Melainkan dia ingin muridnya lebih baik dan memberikan segenap kelebihannya untuk orang lain..
Jadi sekarang..? Apapun kesusahan yang kita alami, karena kita melakukan tugas dan kewajiban kita bahkan kebaikan kita sekalipun, kita harus sadari bahwa itu terjadi atas izin dari Tuhan..
Tidak percayakah anda bahwa Tuhan berkuasa untuk menghentikan dan merestui sesuatu itu terjadi..? Kalau saya pribadi percaya bahwa Tuhan berkuasa untuk itu.. ^_^
Dan kalau Tuhan mengizinkan itu terjadi, maka Tuhan punya alasan di balik itu semua.. Sebuah alasan yang membawa pada sebuah kebaikan bagi kita karena Tuhan itu setia dan benar.. Kebaikan yang tidak terjadi dalam waktu 1 jam atau 1 hari.. Tapi kebaikan yang akan kita petik dalam jangka waktu yang lama, yang tidak pernah kita sadari secara instant.. Melainkan sebuah kebaikan yang akan kita sadari saat kita merefleksi diri kita secara utuh..
So ? Beranikah anda mengacungkan tangan kepada Tuhan dan berkata.. “Tuhan, Engkau telah mengajar aku.. Aku minta Engkau memberikan ujian kepadaku..Supaya aku bisa melanjutkan ke jenjang kehidupan yang lebih tinggi..” ?
Tidak perlu takut, karena Tuhan tahu dengan pasti sejauh mana kemampuan anda..
Tapi mungkin Tuhan akan berkata dengan tersenyum “Bersuka citalah saja dalam kesusahan, karena saat itupun aku sedang mengajar kamu.. Itu sudah cukup bagi KU..”
Jadi.. Siapakah tidak berbahagia memiliki Tuhan yang setia seperti itu..? Hahahaaha.. Setan pun pasti akan bersyukur..
Makanya itu, AYOOO SEMANGAAAAT..!!! Selesaikan tugas tugas dari Tuhan.. Tunjukin sama Tuhan bahwa kita mampu dan siap menerima berkat yang lebih besar.. Hehehe..
Bersuka cita dalam keluh kesah..? Sapa takuuut.. :)
Praise The Lord, My Soul.. I Love U My Lord..
Sebuah kisah tentang Nabi Elia menjadi sajian dalam bacaan pertama.. Mengingatkan aku tentang sebuah cerita alkitab yang di fiksikan oleh Paulo Coelho dalam sebuah novelnya berjudul “The Fifth Mountain”.. Sebuah buku yang benar benar mampu menyadarkan aku tentang sebuah ketaatan serta sebuah pengujian..
Di ceritakan tentang Nabi Elia dalam ketaatannya kepada Tuhan justru menjadikan dia sebagai seorang pelarian.. Dalam pelarian tersebut ia masuk ke dalam sebuah kota dimana dia akhirnya bertemu seorang janda dan jatuh cinta kepadanya.. Tetapi dalam ketaatan itu ternyata nasib berbeda menemui nya.. Orang yang di cintai nya satu persatu harus pergi.. Sepertinya Tuhan mempermainkan dia.. Huuumm.. Sedihnyaa.. hikks hiks..
Masih tentang bacaan di gereja juga.. hehehe.. Dua minggu yang lalu bacaan pertama di gereja adalah tentang bangsa Israel yang keluar dari perbudakan mesir, yang kemudian sampai di tengah padang gurun mereka berkeluh kesah, sebab mereka kelaparan.. Mereka lebih memilih untuk mati sebagai budak tetapi dengan roti dan daging di depan mata mereka, daripada mati kelaparan di padang gurun sebagai orang orang bebas..
Bagi saya, kedua cerita tersebut memiliki substansi yang sama.. Tentang ketaatan dan tentang sebuah penderitaan.. Saya rasa banyak orang berkeluh kesah, “Waduuhh, saya ini sudah jadi orang baik, tapi masih saja seperti ini seperti itu..” Hahahaa.. Gw banget keluh kesahnya.. Padahal saya bukan orang baik.. Hihihi.. Cepee deehh..
Tetapi keluh kesah yang seperti itu 100% wajar.. Itu normal.. Gak dosa (menurut saya sih).. Hehehe..
Tapi lantas kalau kemudian dengan keluh kesah seperti itu membawa kita kepada suatu amarah, kepada suatu umpatan bahkan kepada suatu rasa benci kepada Tuhan terlebih sikap penyalahan diri sendiri.. Itulah yang membuahkan sebuah dosa.. Hehehe.. Sok Teu gw yaa… ? Wuakakakakak.. Gaklaaah.. emang gitu sih.. :D ting ting ting *gigi mengkilap*…
Woaah.. Jadinya ngomong apaan sih lo gak jelas bangeeet..??!! Hehehe.. Sabar sabar guyz galz.. Gini maksudku..
Sadarkah kalian bahwa Tuhan itu sebenarnya tidak pernah bermaksud jahat sama kita..? Dia baik, bahkan lebih baik dari yang pernah kita duga.. Dia seperti guru yang setia dan bertanggung jawab..
Jadi saat kita menemui kesusahan dalam sebuah tugas, kewajiban bahkan kebaikan yang telah kita lakukan, maka tenanglah.. Don’t panic.. Pasti ada sebuah alasan di balik semua kejadian itu..
Nabi Elia pada suatu titik tertentu juga sempat berkata kepada Tuhan yang mengutus dia.. "Sudahlah biarkan aku kembali saja sebagai orang biasa dengan segala kekurangan alamiah ku.. " Huumm.. Tapi Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi.. Tuhan mengutus malaikat nya untuk memberikan semangat pada Nabi Elia.. Dan pada titik tertentu juga, memuncaklah kejenuhan Nabi Elia karena segala kejadian pahit yang di alaminya.. Hingga mengatakan " Aku hendak menantang Tuhan.. Aku akan mendirikan kota Akbar yang telah hancur lebur ini jauh lebih indah dari yang pernah ada.. " Kemudian dia membangun kota akbar itu menjadi lebih indah..
Dan pada titik itulah Nabi Elia mengerti akan sebuah keinginan Tuhan.. Bahwa Tuhan menginginkan dia lebih dari sekedar manusia dengan kekurangannya.. Tuhan tahu sejauh apa kemampuan Nabi Elia.. Dan Tuhan mau mengajar dia untuk menjadi lebih dari sekedar itu..
Saya akan mengambil cuplikan ilustrasi lebih simple lagi dari buku yang telah saya tulis.. Hehehe.. Bukan maksud promosi loh.. (Padahal sudah masuk unsur promosi yaa..?? Xixixixi)..
" Ada seorang yang berlatih silat di suatu gunung, dia dan seorang gurunya saja di tempat itu… Guru itu sangat pandai ilmunya dan sakti pula, dia adalah orang nomor satu yang paling disegani di seantero jagad karena ilmunya… Setelah bertahun-tahun murid itu tumbuh dan berlatih di tempat itu dengan disiplin, gurunya mengajari tentang ilmu silat, kebijaksanaan dan hal yang baik kepada muridnya itu dan guru itu sangat menyayanginya…
Hingga suatu malam, saat murid itu sedang tertidur lelap, seseorang dengan berpakaian hitam dan bertopeng menyerangnya secara tiba-tiba… Murid itu terkejut, di tengah ketenangannya dalam tidur itu dia menjadi lengah, kewalahan dan terluka di beberapa bagian karena serangan orang itu, tapi murid itu bangun dan menantang orang itu… Mereka berkelahi sepanjang malam itu dan murid itu berhasil mengalahkannya…
Murid itu penasaran, dia segera membuka topeng penyerang itu dan menemukan bahwa penyerang itu adalah gurunya sendiri… Murid itu makin tidak mengerti dan bertanya mengapa gurunya melakukan hal itu… Guru itu menjawab bahwa sudah bertahun-tahun murid itu belajar di gunung ini, banyak ilmu sudah diturunkan kepadanya… Tapi tidak akan pernah ada artinya kalau murid itu tetap ada di tempat ini… Sudah waktunya dia pergi mengembara mencari yang lebih dalam tentang arti kehidupan dan makna dia belajar ilmu silat itu… Guru itu berkata, bahwa jauh di luar sana banyak hal yang tidak terduga dan mungkin jauh lebih berat daripada serangan tak terduga yang barusan dilakukannya… Semuanya itu hanya ujian supaya murid itu terlatih menghadapi yang jauh lebih besar di luar sana…
Murid itu bertanya lagi, “ kenapa guru bisa kalah dengan saya, padahal ilmu guru masih jauh di atas saya ?”
“Seandainya guru mau, guru bisa kalahkan saya dengan mudah…” lanjut murid itu…
Guru itu menjawab, “Nak, aku tahu aku bisa kalahkan kamu dengan mudah… Bahkan dengan memejamkan mata sekalipun, atau tanpa menyentuh sedikitpun tubuh kamu…”
“Tapi tidak tahukah kamu ? Aku guru yang baik dan tidak curang, aku tidak menggunakan kekuatanku sepenuhnya untuk menunjukkan bahwa aku hebat… Semua orang telah mengakuinya tanpa aku harus mengalahkan kamu dahulu…”
“Aku tahu sejauh mana aku harus membatasi diriku saat melawan kamu, karena aku tahu setinggi mana ilmu kamu, karena kamupun adalah muridku…” "
Yup.. Guru silat itu benar benar mengenal muridnya dan tidak menginginkan muridnya menjadi jago kandang saja.. Melainkan dia ingin muridnya lebih baik dan memberikan segenap kelebihannya untuk orang lain..
Jadi sekarang..? Apapun kesusahan yang kita alami, karena kita melakukan tugas dan kewajiban kita bahkan kebaikan kita sekalipun, kita harus sadari bahwa itu terjadi atas izin dari Tuhan..
Tidak percayakah anda bahwa Tuhan berkuasa untuk menghentikan dan merestui sesuatu itu terjadi..? Kalau saya pribadi percaya bahwa Tuhan berkuasa untuk itu.. ^_^
Dan kalau Tuhan mengizinkan itu terjadi, maka Tuhan punya alasan di balik itu semua.. Sebuah alasan yang membawa pada sebuah kebaikan bagi kita karena Tuhan itu setia dan benar.. Kebaikan yang tidak terjadi dalam waktu 1 jam atau 1 hari.. Tapi kebaikan yang akan kita petik dalam jangka waktu yang lama, yang tidak pernah kita sadari secara instant.. Melainkan sebuah kebaikan yang akan kita sadari saat kita merefleksi diri kita secara utuh..
So ? Beranikah anda mengacungkan tangan kepada Tuhan dan berkata.. “Tuhan, Engkau telah mengajar aku.. Aku minta Engkau memberikan ujian kepadaku..Supaya aku bisa melanjutkan ke jenjang kehidupan yang lebih tinggi..” ?
Tidak perlu takut, karena Tuhan tahu dengan pasti sejauh mana kemampuan anda..
Tapi mungkin Tuhan akan berkata dengan tersenyum “Bersuka citalah saja dalam kesusahan, karena saat itupun aku sedang mengajar kamu.. Itu sudah cukup bagi KU..”
Jadi.. Siapakah tidak berbahagia memiliki Tuhan yang setia seperti itu..? Hahahaaha.. Setan pun pasti akan bersyukur..
Makanya itu, AYOOO SEMANGAAAAT..!!! Selesaikan tugas tugas dari Tuhan.. Tunjukin sama Tuhan bahwa kita mampu dan siap menerima berkat yang lebih besar.. Hehehe..
Bersuka cita dalam keluh kesah..? Sapa takuuut.. :)
Praise The Lord, My Soul.. I Love U My Lord..
No comments :
Post a Comment